Spectacles, Kacamata Bikinan Snapchat Kini Merambah Pasar Eropa

fd038c253da70e22a952945806c109b6
Source : Mirror

Editor : Rahmat Aulia

Kacamata seharga 130 poundsterling atau Rp 2,2 juta ini bukanlah kacamata biasa. Ini adalah kacamata virtual yang sanggup mengambil video berdurasi 10 detik serta foto layaknya sebuah kamera ponsel.

Yang unik dari kacamata ini adalah, hasil jepretan terhubung langsung ke akun Snapchat pengguna. Pengguna juga bisa langsung mengunggah dan membagikan video atau foto tersebut ke pengguna Snapchat yang lain.

Benda berwujud nyentrik ini diproduksi oleh Snap Inc, induk perusahaan Snapchat. Sejatinya, Spectacles bukan merupakan barang baru. Ia sudah diluncurkan bulan November lalu di Amerika Serikat.

Kacamata ini bisa diperoleh secara online melalui website Spectacles.com. Ia juga bisa didapatkan melalui mesin penjual otomatis (vending machine) bernama Snapbots.

Snapbots adalah mesin penjual berwarna kuning yang tersebar di beberapa kota besar di Eropa, seperti: London, Paris, Berlin, Barcelona, dan Venice. Setiap hari, mesin berwujud boks besar itu terus berpindah dari satu titik ke titik lainnya.

Salah satu keistimewaan Spectacles adalah, ia menghasilkan foto dan video dengan sudut pandang lebar. Foto dan video yang diambil dibuat seolah-olah seperti penglihatan mata manusia.

Snaptacles merupakan satu-satunya kacamata pintar yang dijual di pasaran setelah era Google Glass berakhir (Google Glass: produk augmented reality besutan Google).

Diluncurkan tahun 2014, Google Glass tidak berumur panjang. Setahun setelahnya (2015), Google menarik Google Glass dari peredaran dengan alasan mengganggu privasi dan keamanan penggunanya.

Di Eropa, Snapchat memiliki pasar yang sangat bagus. Dari 166 juta pengguna Snapchat aktif, 55 juta di antaranya berdomisili di Eropa. Snap In mendaku, pengguna akan mengunggah 3 miliar snap (foto dan video) menggunakan kacamata canggih ini setiap hari.

SNAP INC | MIRROR

Robot Ini Bisa Bicara Seperti Manusia

 

5392ed934ca2fae60bf52ada8b67bc2c
Source : Mashable

Editor : Aulia Rahmat

Jepang kembali menciptakan robot android yang mirip dengan manusia. Robot buatan Hiroshi Ishiguro, Profesor dari Osaka University, bersama rekannya, Dylan Glas itu diberi nama Erica.

Robot ini berwujud menyerupai perempuan cantik berusia 23 tahun. Selain cantik, ia memiliki kemampuan berkomunikasi yang sangat baik.

“Erica adalah robot yang ciri-cirinya paling mendekati manusia,” ujar Ishiguro.

Erica berbeda jika dibandingkan kreasi Ishiguro lainnya. Ia memiliki kemampuan bahasa tubuh yang tidak dimiliki robot-robot lain.

Saat berbicara, Erica mampu memberikan kesan natural layaknya seorang manusia. Ia juga bisa mengedipkan mata, memiringkan kepala, membentuk mimik wajah yang mengikuti emosi, hingga menggerakan bibir.

Meski mirip dengan manusia. Erica belum sempurna seutuhnya. Kaki dan tangannya masih kaku, belum bisa bergerak dengan leluasa.

Erica adalah robot hasil kerjasama antara The Japan Science and Technology Agency, Osaka University, the Advanced Telecommunications Research Institute International (ATR) dan Kyoto University.

Ishiguro dan Glas terus bekerja keras menyempurnakan Erica. Mereka bercita-cita menjadikan Erica sebagai robot yang sanggup berinteraksi dengan manusia. Menjadikannya mahluk sosial.

MASHABLE | THE GUARDIAN

Bekal Cinta Aja Enggak Akan Cukup

Movies and books are truly my muse. Film yang gue tonton kali ini judulnya One True Thing. Lagi iseng aja waktu itu kebetulan ada di HBO. Ternyata setelah gue cari di Google, One True Thing adalah film lama. Diproduksi tahun 1998 ketika gue masih balita berumur tiga tahun. Pemainnya yakni Meryl Streep, Renee Zellweger, dan William Hurt.

Di dalam film One True Thing, Meryl Streep (Kate) berperan sebagai ibu dari Renee Zellweger (Ellen Gulden). Sementara William Hurt berperan sebagai suami Kate. Film ini menceritakan kehidupan Kate beserta keluarga kecilnya itu. I warn you this movie is a sad ending and really touching. I barely cried over this old movie hehehe.

Ada satu scene dimana Ellen mengetahui bahwa ayahnya berselingkuh secara diam-diam. Sikap Ellen pada ayahnya jadi berubah sejak saat itu. Kate yang cemas akan perubahan sikap Ellen pun akhirnya angkat bicara. Ternyata, ia juga tahu kalau suaminya tengah mendua.

I feel like that I have to quote what Kate has said to Ellen “You make concessions when you’re married a long time that you don’t believe you’ll ever make when you’re beginning. You say to yourself when you’re young, oh I wouldn’t tolerate this or that or the other thing, you say love is the most important thing in the world and there’s only one kind of love and it makes you feel different than you feel the rest of the time, like you’re all lit up. But time goes by and you’ve slept together a thousand nights and smelled like spit-up when babies are sick and seen your body droop and get soft. And some nights you say to yourself , it’s not enough, I won’t put up with another minute. And then the next morning you wake up and the kitchen smells like coffee and the children have their hair all brushed and the birds are eating out of the feeder and you look at your husband and he’s not the person you think he was but he’s your life. The house and the children and so much more of what you do is built around him and your life, too, your history. If you take him out it’s like cutting his face out of all the pictures, there’s a big hole and it’s ugly. It would ruin everything. It’s more than love, it’s more important than love…”

Yup, so it turns out like that. Married is bigger than what we define as love. Your partner may change a lil bit or even huge. Setuju enggak setuju sih sebenarnya sama prinsip Kate yang “let it go” and “let it be” (bingung sih either you have to split up or hold up). Overall, I think we should get marry only when we’re ready not because the society told you so.

Karena nyatanya memang mempertahankan itu enggak mudah. Kalau kata Adhitya Mulya dalam bukunya Sabtu Bersama Bapak, “Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain”.

 

Kamu Generasi Kekinian Banget?

635957617276086104-298548366_millennials

source: The Odyssey Online

Siapa sih millennials itu? Yup bagi kamu yang lahir antara tahun 1980-2000, congratulation! karena kamu masuk ke dalam generasi millennials, begitulah yang Times Magazine bilang.

Gue harus banget ngucapin congratulation ke generasi millennials karena kita (aku dan kamu unchh) punya berbagai macam keuntungan dan kesempatan yang bisa dibilang cukup unlimited.

Jadi ceritanya gue sempet baca bukunya Yoris Sebastian yang terbaru, judulnya Generasi Langgas: Millennials Indonesia. Berhubung di tempat magang gue sebut aja Televisi Masa Kini itu sangat concern dengan millennials, jadi ya gue juga tertarik lah buat baca bukunya Yoris itu.

Dalam bukunya Yoris, dijelasin tuh kenapa generasi millennials juga disebut dengan generasi langgas sampai tips and trick survive dalam kehidupan generasi millennials.

Setelah baca bukunya, gue baru tahu ternyata 33% penduduk Indonesia adalah millennials dan sebanyak 50% penduduk usia produktif di Indonesia adalah millennials. Wow, angka yang begitu fantastis bukan? *berasa iklan*

Nyambung ke pembahasan sebelumnya, sebenernya gue ingin mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT dan kepada orang tua gue karena udah ngelahirin gue ke dunia ini pada tanggal 27 Mei 1995 (biar kalian inget ulang tahun gue nih).

Bersyukur banget bisa jadi salah satu butiran debu dalam generasi millennials ini. Bayangin aja jaman kekinian sekarang ini lo bisa dengan mudahnya mengakses segala macem informasi lewat internet.

Hidup kita sekarang jadi jauh lebih mudah. Semua orang pake smartphone. Mau bales dendam ke mantan pake foto sama gebetan gampang banget karena ada Instagram. Mau pdkt sama cowok ganteng di kampus jadi gampang juga karena ada aplikasi chat Whatsapp dan Line. Coba bandingin sama jaman dulu, mana bisa copy-paste dari internet terus diedit dikit. *jangan copy-paste ya namanya plagiat itu*

Asyik banget kan jadi generasi millennials.

He’s a Genius

Why hurt the one man who walk on that road with you? –Guy Pearce as Scott Fitzgerald in Genius

Have you ever heard about Ernest Hemingway, Scott Fitzgerald or Thomas Wolfe?  Ternyata dibalik ketenaran mereka sebagai penulis buku best seller pada masanya, ada seorang editor handal yang menemani dan bekerja bersama mereka. Ia adalah Maxwell Perkins.

wk-genius0610-3
source: washingtonpost.com

Baru-baru ini gue nonton film berjudul Genius. Film itu bercerita tentang gimana seorang editor membantu para penulis (yang udah gue sebutin di atas) buat menghasilkan buku yang kemudian menjadi buah kesuksesan mereka. Sebut saja novel dengan judul This Side of Paradise, A Farewell to Arms, The Great Gatsby, Look Homeward, Angel, dan Of Time and the River.

Film ini dibintangi oleh Jude Law (Thomas Wolfe), Colin Firth (Max Perkins), Nicole Kidman (Aline Bernstein), Guy Pearce (F. Scott Fitzgerald), dan Dominic West (Ernest Hemingway). Sebenernya masih banyak cast-nya yang lain tapi di sini gue enggak bakal nyebutin satu-persatu. Film Genius fokus pada kisah persahabatan antara Max Perkins dengan penyair yang tak pernah kehabisan kata-katanya, Thomas Wolfe (Tom). Di situ diceritain tentang kehidupan Tom yang sedikit demi sedikit berubah semenjak bertemu Max Perkins. Yang tadinya buku Tom ditolak melulu sama penerbit, sampai akhirnya, Max sebagai editor setuju untuk menerbitkan novelnya Tom. Finnaly, Tom berhasil and he gets a lot of royalti from his works.

Film Genius ini menampilkan kenyataan kalau jadi orang sukses atau terkenal itu berat. Dari segi mental sama fisik ada aja cobaannya. Dalam kasus ini bukan gak mungkin penulis bisa kehabisan kata-kata untuk menulis atau malah memutuskan untuk berhenti menulis.

Dari film ini kita bakalan dikasih tahu kalau you’ve got to sacrifice a lot to gain a lot like you should work your ass off. FYI, ini salah satu film bergenre drama yang dibintangi bapak-bapak yang menurut gue highly recomended for you to watch (karena biasanya gue aja males banget nonton genre drama yang pemainnya bukan anak muda. Kalau genre action yang main bapak-bapak it’s oke deh). Terharu nontonnya. Cocok banget buat yang suka poetic script. Such an epic!

Educated Woman

Katanya perempuan itu harus berpendidikan tinggi.

filnbmmpm9vtpq_1_a
source: cdn.movieweb.com

Begitu yang ada di dalam buku Alpha Girl’s Guide yang ditulis sama om Henry Manampiring, if you don’t know you can Google him *I have so many insights from you om thank you!*. Jadi menurut om Piring ini, ya wajar aja kalau perempuan punya ilmu yang setinggi-tingginya dan enggak kalah sama para lelaki.

Gue pernah denger seorang cowok dengan mudahnya bilang, ngapain cewek ikutan kerja toh ujung-ujungnya juga bakalan di dapur. Mending jadi istri yang baik dan ngurusin anak di rumah. He just really don’t know what woman can do. Pola pikir yang sempit begini nih yang bikin bangsa kita makin kecil. hufte. Padahal kan yang punya kewajiban masak dan ngurus anak bukan hanya perempuan aja.

Pas ditanya kenapa perempuan harus berpendidikan tinggi seperti ini jawaban om Piring:

“Karena sesudah menikah 10 tahun dan suami lo memutuskan untuk:

  • punya simpanan perempuan yang 20 tahun lebih muda, atau
  • pengin nikah lagi dan lo dimadu, atau
  • menceraikan lo untuk nikah lagi, maka

dengan pendidikan tinggi, lo masih bisa mandiri dan nggak pasrah menangis memohon dia mengasihani lo dan tetap menafkahi lo. Malah, lo bisa menendang dia dari hidup lo. Perempuan berpendidikan tinggi punya kemampuan mandiri sebagai backup plan.”

I couldn’t agree more on his statements. Setuju banget, ya dengan pendidikan tinggi perempuan bisa cari kerja yang bagus dan juga sebagai  bekal untuk masa depan. Gak ada yang tahu pasangan kita *gue belom ada sih, #eh* bakalan kayak gimana di masa depan. Because we don’t know what will occur in the future. Kalau lo bisa liat masa depan lo sih bebas. Good and bad things happen in life and ready or not we have to conquer it. Coba dipikirin lagi yang masih berpendapat kalau cewek baiknya di rumah aja.

Menyingkap Sejarah Kelam Bangsa dalam Senyap

Sore itu Ramli berjalan pulang ke rumah dengan badan bersimbah darah. Wajahnya penuh luka. Sedang perutnya terkoyak hingga ususnya hampir keluar. Dalam kesakitan ia memanggil-manggil ibunya.

Segelintir cerita itu yang Adi dengar dari penuturan sang Ibu. Adi hanya terdiam ketika melihat langsung reka ulang adegan pembunuhan Ramli, kakak lelakinya, dari sebuah video. Pandangan Adi tak dapat teralihkan dari layar kaca saat dua laki-laki paruh baya dengan antusiasme yang tinggi memperagakan bagaimana cara mereka menyiksa dan menikam Ramli berkali-kali di pinggir Sungai Ular itu.

Ramli hanyalah salah satu korban dari jutaan orang lainnya yang tewas dalam pembantaian pada 1965. Ramli merupakan seorang buruh perkebunan yang dituduh sebagai simpatisan komunis. Ia dianggap terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada waktu itu sedang bersitegang dengan pemerintah.

Sampai saat ini bangsa kita disuguhkan cerita bahwa yang bertanggung jawab atas terjadinya pembantaian pada tahun ’65 adalah PKI. Tapi, justru para pelaku ialah rakyat biasa yang tergabung dalam kelompok sipil. Bertahun-tahun keluarga Adi dan keluarga korban yang lain hidup dalam kesenyapan karena resmi dinyatakan “tidak bersih lingkungan”. Tak ayal, rasa takut pun terus menghantui. Pasalnya, para pembunuh yang membunuh anggota keluarga mereka kini masih hidup dan berkuasa.

Bosan dengan rasa takut dan ingin mengungkap kebenaran, Adi mendatangi para pelaku agar ia dapat mengenali mereka dan memahami apa yang sebenarnya dialami keluarganya. Beberapa kali Adi menyambangi tempat tinggal para pembunuh sebagai tukang kacamata.

Sembari memeriksa mata para pelaku yang sudah lanjut usia itu, Adi mengorek peristiwa pembantaian ’65. Dengan sabar dan mencoba untuk bersikap biasa saja, Adi melontarkan berbagai pertanyaan. Pembunuh-pembunuh itu dengan bangga bercerita. Bahkan sebagian dari mereka tidak merasa bertanggung jawab atas terbunuhnya jutaan orang akibat perbuatan mereka di masa lalu.

Itulah sepenggal cerita dalam pemutaran film Senyap (The Look of Silence) yang diselenggarakan oleh LPM INSTITUT, Kamis lalu. Pemutaran film karya Joshua Oppenheimer ini diadakan pada 11 Desember 2014 dan bertempat di ruang Teater Prof. Dr. Aqib Suminto Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) Universitas Islam Negeri (UIN)  Jakarta.

Seusai pemutaran film yang mengusung tema Merangkai Narasi Alternatif Peristiwa ’65 ini, diadakanlah diskusi dengan pembicara Redaktur Surah Sastra, Abi S. Nugroho, pendiri komunitas Mata Budaya, Okky Tirto, serta perwakilan LPM INSTITUT, Thohirin.

Dalam diskusi film yang pemutarannya sempat dihentikan di beberapa daerah ini, Abi S. Nugroho mengatakan, banyak narasi alternatif yang dapat menggambarkan peristiwa pada tahun 1965. “Narasi alternatif misalnya nasib para petani dan kelompok masyarakat menengah ke bawah yang masih saja belum merdeka. Kemudian di dalam sastra kita juga bisa membaca karya yang berhubungan dengan peristiwa 1965 atau peristiwa revolusi itu sendiri,” jelasnya.

Salah satu peserta dari The Zeitgeist Movement Indonesia, Peter Joseph menuturkan, Senyap menunjukkan tabir yang sebenarnya dari sejarah yang sudah direkonstruksi oleh para penguasa sampai saat ini. “Ketika kita sudah mengetahui sejarah yang sebenarnya dari film itu, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.

Menangapi hal itu, Okky Tirto menjelaskan, dampak dari beredarnya film Senyap  sebenarnya  yang harus dipikirkan. “Apabila orang yang tidak terdidik ataupun tidak open minded menonton film ini dampaknya akan berbeda dan dapat menjadi masalah. Tak bisa dipungkiri bahwa ancaman dan kekhawatiran itu masih ada,” jelasnya.

Okky menambahkan, film Senyap menunjukkan adanya upaya pembodohan publik secara sistematis melalui politik pendidikan dan politik kurikulum seperti yang terjadi di sekolah-sekolah.

Senada dengan Okky, Thohirin menuturkan, peristiwa pembantaian yang terjadi pada tahun 1965 menimbulkan dampak selama bertahun-tahun setelahnya. “Masyarakat jadi berstereotip bahwa komunis itu jahat dan berbahaya. Tapi dari film Senyap kita jadi tahu kalau pemerintahan Soeharto yang melatarbelakangi peristiwa ’65,” tuturnya.

Ketua pelaksana pemutaran film Senyap, Selamet Widodo mengatakan, acara pemutaran film Senyap bertujuan agar para pemuda, khususnya mahasiswa tidak melupakan sejarah dan semakin peduli terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). “Jangan sampai kita melupakan perlawanan jika ditindas,” ujarnya.

Jeannita Kirana

cc: www.lpminstitut.com

Sang Pelari yang Tak Pernah Menyerah

unbroken-846251381-large

Judul                    : Unbroken

Tanggal Rilis     : 25 Desember 2014

Sutradara            : Angelina Jolie

Durasi                  : 137 menit

Bahasa                 : Inggris, Jepang

Genre                   : Drama, Perang

Sebelum menjadi atlet olimpiade lari, Louie hanya seorang anak laki-laki yang suka berkelahi, merokok, dan meminum alkohol. Suatu hari, Pete (Alex Russell), kakak lelaki Louie, melihat potensi Louie saat berlari. Menyadari bakat yang dimiliki Louie, Pete meyakinkannya untuk menjadi atlet lari.

Itulah sebagian adegan dalam film Unbroken. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, menceritakan perjuangan hidup Louis Zamperini (Jack O’Connell), seorang atlet olimpiade lari keturunan Italia.

Sukses menjadi atlet di berbagai kejuaraan lari, tak kemudian membuat Louie melepaskan kewajibannya sebagai warga negara Amerika Serikat. Pecahnya Perang Dunia II, membuatnya harus mengikuti wajib militer dan bergabung dengan Angkatan Udara (AU) Amerika dan ikut berperang.

Ketika berperang, mesin pesawat tempur yang ditumpangi Louie dan rekannya rusak. Tak membutuhkan waktu yang lama, pesawat itu jatuh ke dalam lautan. Beruntung, Louie beserta dua orang temannya, Phil (Domhnall Gleeson) dan Mac (Finn Witrock), selamat dari kejadian tersebut.

Di tengah laut, Louie dan dua temannya harus bertahan hidup hanya dengan berbekal dua buah sekoci dan persediaan makanan yang terbatas. Sayangnya, Mac meninggal dunia sebelum pertolongan datang.

Setelah 47 hari berada di tengah laut dan menghadapi berbagai ancaman badai serta ikan hiu, Louie dan Phil ditemukan oleh pasukan Jepang. Kemudian mereka pun ditangkap lantaran memang kala itu pihak Amerika berlawanan dengan pihak Jepang.

Semenjak itu, Louie dan Phil menjadi tawanan perang Jepang. Mereka menjalani hari-hari penuh siksaan di kamp tahanan. Watanabe (Miyavi), perwira Jepang yang bengis dan tak berbelas kasih seringkali memerhatikan dan mengincar Louie hanya untuk dihukum dan dipukuli. Bahkan, saat Louie tak sengaja menatap mata Watanabe, ia langsung dipukul dengan tongkat kendo milik Watanabe.

Louie yang lemah dan bertubuh kurus juga pernah diperintah oleh Watanabe untuk mengangkat balok kayu berukuran besar. Dengan kakinya yang goyah akhirnya Louie dapat mengangkat balok kayu tersebut. Tanpa berkedip, sorot mata Louie tajam menatap Watanabe. Perwira Jepang itu menyuruh anak buahnya menembak Louie jika balok kayu tersebut terjatuh.

Tak hanya itu, pernah suatu saat Louie diminta untuk berbicara dalam suatu program radio di Jepang. Awalnya, ia merasa senang karena bisa mengabari keluarganya bahwa ia masih hidup.

Lalu, Louie diminta untuk menyampaikan berita bohong mengenai Amerika Serikat. Louie memilih untuk tak melakukannya dan kembali ke kamp tahanan. Sesampainya di kamp, Watanabe malah menghukum Louie dengan menyuruh satu-persatu tahanan untuk memukul wajah Louie.

Film yang diangkat dari novel karya Laura Hillenbrand berjudul Unbroken : A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption ini, menggambarkan sosok Louis Zamperini yang tak mudah menyerah, setia pada negara, dan tetap memegang teguh keyakinannya.

Lewat Unbroken, penonton diajak untuk merasakan kepedihan dan semangat hidup yang luar biasa dari para aktor Unbroken. Film yang masuk nominasi Piala Oscar dalam kategori Best Cinematography, Best Sound Mixing, dan Best Sound Editing ini memberikan sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti dari Louis Zamperini, bahwa balas dendam tidaklah lebih baik dari memaafkan.

cc: www.lpminstitut.com

Cerminan Manusia Indonesia

Judul: Manusia Indonesia

Penulis: Mochtar Lubis

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Isi: 140 Halaman

Terbit: Mei 2001

ISBN: 978-979- 91-0515-8

“Manusia Indonesia karena semua ini, juga penuh dengan hipokrisi. Dalam lingkungannya dia pura-pura alim, akan tetapi begitu turun di Singapura atau Hongkong, atau Paris, New York dan Amsterdam, lantas loncat ke taksi cari nightclub, dan pesan perempuan pada pelayan atau portir hotel. Dia ikut maki-maki korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor.” (Manusia Indonesia hal.19)

Petikan paragraf dalam buku berjudul Manusia Indonesia merupakan salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol yaitu hipokritis alias munafik. Manusia Indonesia kini semakin pandai menyembunyikan kata hatinya, perasaan, pikiran dan keyakinan yang sesungguhnya.

Sistem feodal dan kolonial di masa lalu berpengaruh besar atas tertanamnya hipokrisi dalam diri manusia Indonesia. Manusia Indonesia bertingkah pura-pura dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap asal bapak senang.

Ciri selanjutnya yang menggambarkan manusia Indonesia adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya dan pikirannya. Terbukti dengan kalimat “Bukan saya” dan “Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan!” yang seringkali diucapkan sebagai bentuk nyata dari sikap tak bertanggung jawab.

Jiwa feodal juga terdapat dalam diri manusia Indonesia. Jiwa feodal ini tumbuh dengan subur di kalangan atas maupun bawah. Kalangan atas mengaharapkan bawahannya agar patuh, hormat, takut dan merendah diri. Begitupun sebaliknya si bawahan yang berjiwa feodal dengan setia mengabdi pada atasan.

“Pernah seorang kawan bercerita, bahwa dia pernah hendak menelepon seorang pembesar, yang diterima oleh seorang ajudan atau sekretaris dan ketika dia mengatakan bahwa dia hendak berbicara dengan sang bapak, maka sang ajudan atau sekretaris, berkata: “Apa bapak sudah ada janji?” Dia heran sekali dan bertanya, kok mau menelepon perlu janji. Soalnya banyak orang merasa bahwa langsung menelepon pembesar itu kurang sopan. Yang sopan menurut jiwa feodal kita ialah pergi menghadap, maka perlu menunggu, dari beberapa hari sampai beberapa minggu.” (Manusia Indonesia hal. 24)

Lalu ciri berikutnya ialah manusia Indonesia masih percaya pada takhayul. Tak jauh beda dengan masa lalu, manusia Indonesia masa kini masih percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, dan pedang mempunyai kekuatan gaib.

Belum lagi manusia Indonesia mempunyai watak yang lemah dan karakter yang kurang kuat. Manusia Indonesia tak konsisten ketika mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Kegoyahan watak ini merupakan dampak dari jiwa feodal. Demi menyenangkan atasan dan menyelamatkan diri, manusia Indonesia memilih untuk bersikap asal bapak senang.

Dari sekian banyak ciri negatif yang telah diungkapkan Mochtar Lubis, satu-satunya ciri positif adalah sifat manusia Indonesia yang artistik. Indonesia memang merupakan negara yang kaya akan seni dan budaya yang beraneka ragam. Daya artistik manusia Indonesia menghasilkan beragam seni rupa dan kerajinan yang sangat indah. Ciri ini merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi masa depan manusia Indonesia.

Meskipun buku ini berisi pidato Mochtar Lubis yang disampaikan pada tahun 1977, namun isinya masih sangat relevan jika dibaca sekarang. Sebab, sampai saat ini sifat-sifat buruk manusia Indonesia masih dapat ditemukan dan belum berubah dari masa ke masa.

Tata bahasa yang lugas dan gamblang memudahkan pembaca memahami isi dari pidato tersebut. Buku ini mengungkapkan kebobrokan-kebobrokan yang merupakan refleksi dari manusia Indonesia saat ini. Manusia Indonesia hadir di tengah masyarakat Indonesia yang sedang dilanda krisis moral dan karakter. Sebagai cerminan, adanya buku ini dapat membantu membangun kembali manusia Indonesia ke arah yang lebih baik.

cc: www.lpminstitut.com